Seribu Anak Palestina Jalani Amputasi tanpa Anestesia di Gaza

REPUBLIKA.CO.ID, Gaza – Banyak korban ledakan Israel adalah anak-anak dan perempuan. Menurut data UNICEF, sekitar 1.000 anak terputus akibat ledakan tersebut. Sayangnya, amputasi tersebut dilakukan tanpa anestesi.

“Ini menunjukkan bahwa membiarkan pengeboman di Gaza terus berlanjut berarti memberikan lampu hijau untuk membunuh lebih banyak anak,” kata UNICEF seperti dikutip Middle East Monitor, Kamis (28/12/2023).

Kementerian Kesehatan Jalur Gaza sebelumnya menyebutkan hampir 70 persen korbannya adalah anak-anak dan perempuan. Sementara itu, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza melonjak menjadi 20.674 orang.

Perdana Menteri Ashraf Al Kudra mengatakan 54.536 orang terluka dalam serangan selama sebulan tersebut. Israel telah membuang sebagian besar unitnya ke laut dan hingga 2 juta orang terpaksa mengungsi ke tempat-tempat yang kekurangan makanan dan air bersih.

Kejang ini juga menyebabkan banyak ibu hamil melahirkan secara prematur. Mereka melahirkan anak-anak mereka lebih awal karena tekanan perang.

Salah satunya, Iman Al Masri, melahirkan anak keempatnya secara prematur, setelah mengalami stres yang meningkat selama tinggal di kamp pengungsi. Dia terpaksa meninggalkan rumahnya karena pemboman Israel yang terus menerus. Dia juga kesulitan mendapatkan cukup makanan dan air, sehingga membahayakan janinnya.

Iman lahir pada usia delapan bulan dan mendapat perawatan medis darurat. Tiga dari anak-anak tersebut dapat kembali bersamanya ke tempat penampungan tetapi anak keempat tetap berada di kamar bayi.

Pada hari Senin, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa 50.000 wanita hamil saat ini tinggal di kamp pengungsi tanpa makanan atau perawatan medis. Sekitar 180 orang melahirkan setiap hari dalam kondisi yang buruk dan tidak efektif.

Pada tanggal 17 Desember, Dana Kependudukan PBB mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “ribuan wanita hamil dan menyusui di Gaza berisiko meninggal,” dan memperingatkan bahwa “kelaparan yang parah di Gaza membuat wanita hamil dan menyusui berisiko terkena anemia, preeklampsia. dan bahkan kematian.”

READ  Selera Makan Orang Berbeda-beda, Ternyata Ini Penyebabnya

You May Also Like

About the Author: Dea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *