Kemenkes Ungkap Gejala Pasien yang Terkena Mycoplasma Pneumonia di DKI Jakarta

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan RI telah menyelidiki kasus pneumonia Mycoplasma pada anak-anak di Jakarta. Setelah diselidiki, 6 anak berusia antara 3 hingga 12 tahun dipastikan terjangkit bakteri Mycoplasma pneumoniae beberapa waktu lalu.

Rata-rata, gejala pneumonia Mycoplasma pada enam anak diawali dengan peningkatan suhu tubuh atau demam dan batuk. Lalu ada pula yang mengeluh sakit kepala.

“Beberapa orang mulai merasakan sesak napas, namun hanya sesak napas ringan,” kata Maxi Rain Rondonov, direktur jenderal pencegahan dan pengendalian penyakit Kementerian Kesehatan Indonesia.

“Gejalanya hampir sama,” lanjut Maxey. 3 pasien dirawat di rumah sakit

Maxi menjelaskan, lima dari enam anak yang terinfeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae dirawat di RS Medistra Jakarta dan satu pasien di JWCC.

“Dari enam pasien, tiga sudah dirawat di rumah sakit,” kata Maxey.

Anak-anak ini terjangkit Mycoplasma Pneumonia beberapa waktu lalu sekitar bulan Oktober-November, kabar baiknya kini semuanya sudah sembuh.

“Kami meminta rumah sakit untuk merawat mereka dan mereka pulih,” kata Maxey.

Maxey melanjutkan: “Pasien sudah lama berada di rumah, bersekolah dan melakukan aktivitas sehari-hari.”

Padahal, bakteri Mycoplasma pneumoniae bukanlah bakteri jenis baru, kata konsultan dokter anak RS Sipto Mangunkusumo, Nasthidi Kaswanthani. Bakteri ini ditemukan pada tahun 1930an. Berbeda dengan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang pertama kali ditemukan pada tahun 2019.

Nasthidi meminta masyarakat tidak panik saat itu. Angka kematian orang yang terinfeksi Mycoplasma pneumoniae adalah 0,5 hingga 2%.

“Kematian seringkali terjadi karena pasien memiliki penyakit penyerta,” kata Nastidi.

Nasty juga menjelaskan, gejala pneumonia Mycoplasma biasanya mirip dengan gejala infeksi saluran pernafasan akut.

“Awalnya demam, batuk. Batuk ini sangat tidak nyaman dan berlangsung selama 2-3 minggu, itu waktu yang sangat lama,” kata Nastidi.

READ  Warga Tolak Penyebaran Nyamuk Wolbachia di Bandung, Begini Respons Kemenkes

Lalu ada sakit tenggorokan dan kelemahan, dan anak yang lebih besar mungkin mengalami nyeri dada.

Namun Nastidi menegaskan, pneumonia Mycoplasma tidak seserius pneumonia lainnya. Tidak diperlukan cukup oksigen dan dukungan IV.

Makanya disebut pneumonia berjalan. Karena walaupun dia mengidap pneumonia, anaknya bisa berjalan dan berfungsi normal, berbeda dengan pneumonia biasa yang membutuhkan cairan dan rawat inap, kata dokter yang sehari-hari memeriksa pasien di Sipto Mngungkusumo. Rumah Sakit, Jakarta.

Jika gejala pasien pneumonia mikoplasma sebagian besar ringan, mengapa 3 anak di Jakarta perlu dirawat di rumah sakit?

Terkait hal tersebut, Maxey mengatakan, berdasarkan data yang diberikan pihak rumah sakit, pasien yang harus dirawat di rumah sakit tersebut juga terjangkit virus lain.

“Ada beberapa orang yang tertular adenovirus, RSV,” kata Maxey.

You May Also Like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *